Guyub Project

UN Women Indonesia

Selayang Pandang

UN Women adalah Badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, bekerja untuk mengembangkan dan menegakkan standar serta menciptakan lingkungan di mana setiap perempuan dan anak perempuan dapat menggunakan hak asasi manusia yang dimiliki, sertameraih potensi mereka seutuhnya. UN Women mendukung Negara Anggota PBB dalam menetapkan standar global untuk mencapai kesetaraan gender dan bekerja dengan pemerintah serta masyarakat sipil dalam merancang undang-undang, kebijakan, program, dan layanan yang diperlukan untuk memastikan bahwa standar tersebut diterapkan secara efektif dan benar-benar bermanfaat bagi perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia. UN Women juga bekerja untuk membuat visi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) menjadi hasil nyata bagi perempuan dan anak perempuan serta mendukung partisipasi perempuan secara setara dalam semua aspek kehidupan dengan berfokus pada empat prioritas strategis:

Perempuan dan anak perempuan berkontribusi serta memiliki pengaruh yang lebih dalam membangun perdamaian dan ketahan yang berkelanjutan, serta mendapatkan manfaat yang sama dari pencegahan bencana alam dan koflik serta aksi kemanusiaan

UN Women juga mengkoordinasikan dan mempromosikan kerja kerja PBB dalam memajukan kesetaraan gender serta dalam setiap perundingan dan kesepakatan yang terkait dengan Agenda 2030. UN Women bekerja untuk memposisikan kesetaraan gender sebagai hal mendasar untuk pencapaian SDGs dan dunia yang lebih inklusif.

PADA HALAMAN INI

DESA DAMAI

Pada tahun 2017, bekerjasama dengan Wahid Foundation, program “Women Participation for Inclusive Society” atau disingkat WISE untuk mendorong peran perempuan dalam mempromosikan komunitas yang damai dan tangguh untuk menumbuhkan perdamaian. Program ini mengembangkan konsep “Desa Damai” sebagai pendekatan untuk melibatkan pemangku kepentingan utama di desa secara keseluruhan.

Inisiatif Desa Damai bertujuan untuk mengatasi ancaman radikalisme dengan memberdayakan masyarakat, satu desa pada satu waktu, melalui penumbuhan kohesi sosial, ketahanan masyarakat, serta mempromosikan kesetaraan, dan menghormati keragaman dengan partisipasi aktif perempuan. Inisiatif ini menempatkan visi strategis Prevention of Violent Extremism (PVE) – pencegahan ekstrimisme berbasis kekerasan- menjadi tindakan yang sangat konkret.

Melalui inisiatif tersebut, dibentuk beberapa kelompok perempuan yang berperan sebagai agen perdamaian. Di samping komponen pemberdayaan ekonomi, agen perdamaian perempuan menerima pelatihan rutin tentang resolusi konflik dan bagaimana mencegah, mendeteksi, dan menangani tanda-tanda awal kekerasan lokal. Kelompok perempuan mendekati pimpinan desa mereka untuk mencari cara mempromosikan toleransi dan mempertahankan perdamaian dalam komunitasnya. Hasilnya, dalam dua tahun pertama pelaksanaannya antara tahun 2017 hingga 2019, dengan dukungan UN Women, sepuluh kepala desa berkomitmen untuk merintis konsep Desa Damai. Deklarasi Desa Damai yang ditandatangani oleh mitra yang terlibat, didasarkan pada komitmen khusus, tertuang dalam sembilan indikator yang mengukur kemajuan dalam upaya pencegahan kekerasan, mempromosikan toleransi, dan memajukan keadilan sosial.

Inisiatif Desa Damai menempatkan perempuan sebagai aktor utama dalam membangun perdamaian dalam keluarga, masyarakat, dan pemerintahan lokal. Perempuan dilibatkan untuk mengembangkan kemampuan mereka agar mandiri secara ekonomi, berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan komunal, dan secara kreatif mengembangkan pesan perdamaian. Pada saat yang sama, pemerintah desa didorong untuk memasukkan nilai-nilai perdamaian ke dalam kebijakannya. Upaya bersama ini diperkuat lebih lanjut dengan mengkombinasikan pemangku kepentingan yang signifikan dari para pemimpin akar rumput, pemerintah, pemerintah daerah, serta lembaga internasional.

PENELITIAN BERKUALITAS

tentang PVE dengan pendekatan keamanan manusia

UN Women mendukung Indonesia untuk mempromosikan hak asasi perempuan, Undang-undang, kebijakan, dan rencana pembangunan yang responsif gender. Di antara inisiatif lainnya, upaya ini melibatkan kerjasama dengan organisasi masyarakat sipil untuk memfasilitasi lokakarya usaha kecil, pinjaman untuk memberdayakan perempuan secara ekonomi, meningkatkan kapasitas perempuan untuk menangani konflik berbasis komunitas, dan mendukung solusi damai untuk pertumbuhan intoleransi dan ekstremisme kekerasan. Ini terjadi di tingkat desa di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dari upaya ini, sepuluh desa telah mendeklarasikan diri mereka sebagai ‘Desa Damai’, yang berarti pemangku kepentingan desa, dengan pengaruh aktif dari kelompok perempuan, berkomitmen untuk mencapai indikator desa damai yang telah dikembangkan sebelumnya. Konsep Desa Damai dikembangkan di bawah program UN Women yang disebut Perempuan Berdaya, Komunitas Damai.

Empat desa perdamaian yang didirikan di Jawa Timur memberikan landasan ideal bagi program keamanan manusia karena menerapkan prinsip-prinsip utama pendekatan keamanan manusia. Rancangan konsep desa perdamaian mengakui keterkaitan antara perdamaian, pembangunan, dan hak asasi manusia, sambil berfokus kepada menghasilkan ketahanan di tingkat akar rumput, di antara masyarakat. Desa Perdamaian juga memiliki posisi yang baik untuk berfungsi sebagai desa percontohan dalam mengembangkan pendekatan berbasis masyarakat dan responsif gender untuk implementasi Rencana Aksi Nasional Indonesia Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme.

UN Women juga mendorong kebijakan dan prioritas pembangunan nasional yang responsif gender, termasuk respons terhadap ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme. Dengan dukungan dari UN Women dan organisasi masyarakat sipil, Pemerintah Indonesia dapat mengesahkan Rencana Aksi Nasional Perempuan, Perdamaian dan Keamanan melalui Peraturan Menteri dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Permenko PMK) pada tahun 2014. UN Women juga mendukung penyusunan Rencana Aksi Nasional berikutnya tentang Perempuan, Perdamaian dan Keamana, serta Rencana Aksi Nasional untuk mencegah ekstrimisme berbasis kekerasan.

Photo courtesy of Wahid Foundation